URGENSI UAN

URGENSI UAN

Oleh: Rino Desanto

 

Terlepas dari pro dan kotra, ujian akhir nasional masih diperlukan. Paling tidak sebagai bahan evaluasi, apakah penyelenggaraan pendidikan di suatu daerah telah berkembang, stagnasi atau mengalami kemunduran. Sebagai bahan evaluasi disini lebih menitikberatkan pada kondisi masing-masing sekolah. Bila ternayata hasil UAN di suatu sekolah masih dibawah standart yang digariskan pemerintah maka sekolah tersebut bisa melakukan evaluasi atas penyelenggaraan pendididkan disekolahnya. Bagaimana kualitas para pendidiknya, bagaimana sarana dan prasarana yang ada, bagaimana kualitas siswa. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan mendasar yang harus diakomodir dari hasil UAN.

Sehingga pemerintah dapat memetakan rencana pendidikan ke depan. Berapa tenaga pendidikan yang masih harus direkrut untuk daerah terpencil atau daerah pedalaman seperti Papua misalnya, demikian juga sarana dan prasarana yang diperlukan. Kita tidak bisa pungkiri bahwa di daerah-daerah terpencil masih lebih banyak membutuhkan dana pendidikan dari pada daerah perkotaan. Jika pemerintah ingin memeratakan pendidikan agar standar yang digariskan oleh pemerintah dari hasil UAN bisa terpenuhi, mau tidak mau dana pendidikan di daerah terpencil mesti mendapat prioritas  

Di daerah perkotaan apalagi ibukota, banyak sekolah yang sudah maju dan berkualitas. Sudah sepantasnya bila anggaran pendidikan di lebih banyak diarahkan ke daerah terpencil atau daerah pedalaman. Teman-teman pendidik di pedalaman memiliki beban mendidik yang lebih berat dikarenakan kualitas inputnya yang rendah dan sarana yang kurang, dan ini dapat dilihat dari hasil UAN.

Namun sangat disayangkan bila UAN dipakai sebagai alat penentu kelulusan. Apa yang terjadi? Waktu siswa lebih banyak diarahkan pada mata pelajaran yang di-UAN-kan. Mata pelajaran yang lain menjadi mata pelajaran setengah perlu. Celah ini ditangkap oleh lembaga bimbingan belajar dan diolah menjadi bisnis yang menguntungkan. Orang tua juga tidak mau kebakaran jenggot, dengan berbagai cara mendorong anaknya untuk mendapatkan pelajaran tambahan meskipun harus mengeluarkan lebih banyak uang dari saku mereka. Akhirnya, anak tidak lagi memiliki waktu untuk bermain yang menjadi bagian dari konsumsi mereka. Anak hanya mengfahal materi-materi untuk UAN. Anak tidak lagi punya waktu untuk berimajinasi. Mereka menggunakan otak sebelah kiri lebih berat dari otak sebelah kanan. Energi psikis mereka terkuras habis di sekolah dasar dan menengah, tanpa membuahkan hasil yang bisa dikenang masyarakat.

Saat duduk diperguruan tinggi bahkan juga setelah lepas dari perguruan tinggi, mereka sudah kehabisan energi psikis. Saat setelah menghimpun banyak ilmu pengetahuan, adalah saat yang paling tepat untuk berkarya. Tapi apa yang terjadi mereka sudah lelah berpikir, energinya sudah habis. Juga ketika masih duduk di sekolah menengah mereka tidak dibiasakan untuk menggunakan otak kanan dan otak kiri secara seimbang ataupun menggunakan imajinasi agar ilmu pengetahuan yang mereka peroleh dari A sampai Z bisa menghasilkan karya baru seperti teknologi baru atau teori baru. Walhasil, lulusan perguruan tinggi banyak yang pintar tapi sedikit sekali yang jenius.

Ini salah satu sebab kenapa kita selalu tertinggal dengan negara lain. Kita selalu berkiblat pada ilmu dan teknologi mereka. Padahal negeri mereka banyak hidupnya ditopang dari jualan ilmu dan teknologi sehingga tidak mungkin mereka akan serta merta memberikan ilmu atau teknologi mereka yang paling baru. Makanya kita selalu tertinggal. Bagaiamana jalan keluarnya agar kita bisa mandiri? Jawabannya akan saya berikan pada artikel lain!

Saran saya, UAN tetap dipertahankan tapi bukan sebagai alat penentu kelulusan tapi sebagai alat penentu bagi pemakai dan sebagai bahan evalusi kemajuan pendidikan  tentunya. Misalnya pada sekolah yang lebih tinggi atau perguruan tinggi dapat membuat ketentuan bahwa calon siswa atau calon mahasiswa bisa masuk di lembaga tersebut dengan catatan hasil UAN-nya sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: