ADA APA DENGAN NEGERI INI (SEBUAH RENUNGAN)

ADA APA DENGAN NEGERI INI

(SEBUAH RENUNGAN)

Oleh: Rino Desanto W.

Berdirinya Patung Barack Obama di Menteng Jakarta sungguh membuat saya bermenung, ada apa dengan negeri ini? Apa yang salah dengan pendidikan kita? Sudah tidak adakah orang Indonesia yang pantas memperoleh penghargaan dari negeri ini dengan mendirikan patung untuknya. Ataukah kita telah salah mendidik anak bangsa sehingga tidak ada kecintaan terhadap negeri sendiri, terhdap tokoh-tokoh, pemikir dan guru bangsa?

Bila benar ini yang terjadi maka kita perlu menengok ke belakang dan bertanya apa yang telah kita berikan kepada anak bangsa. Pendidikan macam apa yang telah kita suapkan  kepada anak didik kita. Ini pertanyaan mendasar yang sepantasnya menjadi pemikiran bersama terutama beliau-beliau pemangku kebijakan.

Selama ini kita hanya mengedepankan pengajaran sain dan bahasa asing. Bagaimana mungkin anak didik kita memiliki rasa cinta Indonesia yang tinggi bila sejak kecil sudah dicekoki dengan bahasa asing. Di sekolah sudah diberikan pengajaran bahasa asing, sampai di rumah masih disuruh orang tuanya les privat bahasa asing. Setelah remaja mereka mulai tertarik mendalami budaya asing dan akhirnya tidak faman budaya sendiri, lebih parah lagi tidak lagi memilki rasa cinta Indonesia.

Lagi-lagi perlu menengok kebelakang, sudahkan anak didik kita memahami dan hafal sejarah Indonesia? Sudahkah pendidikan sejarah di sekolah-sekolah, membangkitkan semangat mereka untuk memajukan negeri tercinta ini? Sudahkah  pendidikan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah, membangkitkan cinta budaya Indonesia. Bila jawabannya belum atau tidak, maka kita perlu mawas diri terutama terkait dengan kurikulum sekolah yang sekarang sedang berjalan.

Masalah yang sekarang sedang dihadapi para pendidik adalah bagaimana siswanya lulus dari UAN. UAN memang perlu, tapi sebagai bahan evaluasi utnuk pemetaan dan perencanaan pendidikan  ke depan. Tetapi kalau UAN sudah digunakan sebagai patokan kelulusan maka semua energi pendidik akan tercurah pada bagaiamana agar siswanya lulus. Sehingga mata pelajaran lain kurang memdapat perhatian maksimal.

Bahasa Inggris memang merupakan bahasa Internasional. Namun perlu dikaji ulang, seberapa jauh pemakaian bahasa inggris dalam kehidupan sehari-hari. Setahu saya masyarakat lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dan Ibu dalam kehisupan sehari-harinya. Demikian juga tenaga kerja kita, lebih banyak yang bekerja di Indonesia dari pada di luar negeri.

Berkaca dari negara maju seperti Jepang misalnya, banyak dari masyarakatnya yang tidak bisa berbahasa asing. Mereka lebih banyak berusaha menterjemahkan buku-buku berbahasa asing ke dalam bahasanya sendiri. Banyak buku bisa dipelajari dengan bahasanya sendiri dan memiliki cukup waktu untuk mencurahkan energi pada mata pelajaran lain. Karena tidak banyak berkaca pada sesuatu yang asing seperti bahasa asing misalnya, maka  kecintaan pada budaya dan negeri sendiri tidak pernah luntur. Pertanyaannya, masih layakkah bahasa Inggris di-UAN-kan

Lunturnya rasa cinta terhadap budaya dan negeri ini sudah sepantasnya menjadi pemikiran pemangku kepentingan. Sudah saatnya mengembalikan rasa nasionalisme pada masyarakat kita. Bila tidak cepat memulai, saya khawatir masyarakat kita semakin jauh dari kesadaran bahwa bumi yang diinjaknya adalah bumi Indonesia. Apa yang setiap hari dia makan adalah hasil dari bumi Indonesia. Uang yang diperoleh hasil dari bekerja di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: