MEMILIH PEMIMPIN DAN WAKILNYA (SOLUSI SALING MENGISI KEKURANGAN)

MEMILIH PEMIMPIN DAN WAKILNYA

(SOLUSI SALING MENGISI KEKURANGAN)

Oleh : Rino Desanto

Apa yang sedang menjadi pembicaraan hangat saat ini baik di warung kopi, pos kamling sampai dengan forum-forum ilmiah, mulai dari masalah pimpinan KPK, Bank Century, mafia kasus dan sebagainya semua ditunggu hasilnya oleh masyarakat. Masyarakat senantiasa berharap kasus-kasus yang berhubungan dengan keadilan segera cepat diselesaikan. Ini sebuah tantangan berat bagi seorang pimpinan, apakah beliau benar-benar berani mengambil keputusan yang tepat sesuai yang diharapkan masyarakat banyak. Dalam kepemimpinan tidak cukup hanya dengan bermodal kemampuan handal dan berkepribadian baik namun juga diperlukan keberanian mengambil keputusan.

Memilih seorang pemimpin bukanlah perkara mudah. Seorang pemimpin menentukan arah suatu lembaga/organisasi. Ketidaktepatan dalam memilih seorang pemimpin akan berakibat fatal pada keberlangsungan suatu lembaga/organisasi.

Tiga karakter yang harus dimiliki dalam kepemimpinan lembaga/organisasi agar lembaga/organisasi tetap eksis dan tumbuh yaitu: kemampuan, kepribadian dan keberanian.

  1. Kemampuan membaca situasi dari gejala-gejala yang tampak dipermukaan dengan pola berfikir interdisipliner sangat diperlukan. Demikian juga kemampuan mengumpulkan informasi, mengolah menjadi data dan menganalisa data sampai menghasilkan sebuah kesimpulan yang representatif.
  2. Kemampuan diatas masih belum cukup bila tidak dilandasi dengan kerpibadian yang baik. Moralitas haruslah mengiringi setiap perilaku dan pola berfikir seorang pemimpin agar implementasi dari setiap keputusan yang diambil tidak bertentangan dengan norma dan aturan yang berlaku dan diterima oleh sebagian besar anggota lembaga/organisasi.
  3. Keberanian mengambil keputusan. Meskipun memiliki kemampuan handal dan kepribadian yang baik tetapi bila tidak memiliki keberarian mengambil keputusan, maka apa yang telah dilakukan sebelumnya tidak akan berarti apa-apa. Keputusan harus diambil dan  ini membutuhkan keberanian. Setiap keputusan mengandung resiko baik kecil, sedang maupun tinggi. Sebaiknya hubungkan resiko dengan kepentingan lembaga/organisasi baik jangka pendek, menengah maupun panjang. Sehingga terlihat lebih jelas pada tingkat kepentingan mana suatu masalah yang diputuskan mengandung resiko yang paling minimal.

Tiga karakter tersebut harus unggul semua, tidak pandang bulu apakah untuk seorang pemimpin perusahaan, pejabat publik, kepala instansi maupun ketua organisasi lainnya. Masalahnya sekarang, apakah ada manusia yang memiliki tiga karakter diatas dengan intensi yang sama tingginya?. Tampaknya sulit mencari orang seperti ini. Manusia hidup dengan kelebihan dan kekurangannya. Oleh karena itu harus dicari jalan keluarnya agar keunggulan tiga karakter tersebut dapat terpenuhi.

Seorang pemimpin harus mempunyai wakil. Wakil disini bukan sekedar untuk menggantikan posisi pemimpin ketika berhalangan, bukan sebagai orang nomor dua yang mewakili tanda tangan. Wakil disini lebih merupakan satu kesatuan kepemimpinan. Bila seorang pemimpin hanya unggul pada dua karakter, maka satu karakter unggul lainnya haruslah dimiliki wakil pemimpin. Pemimpin dan wakil berkerja sama dan saling mengisi dengan kemampuan yang dimilikinya.

Memilih pemimpin seperti pejabat publik misalnya dibutuhkan selektifitas tinggi. Kita harus tahu apakah pasangan calon pemimpin dan wakilnya memiliki keunggulan ketiga karakter tersebut. Bila jawabnya ya, maka berbahagialah masyarakatnya, tetapi bila sebaliknya maka anda tahu, akan jadi apa nantinya. Demikian juga dengan pejabat birokrasi. Pemimpin dan wakil adalah sebuah pasangan, dalam kontek ini mereka adalah satu. Salah satu dari mereka tidak ada maka kepemimpinan akan mengalami kepincangan.

Dengan memahami keunggulan dan kekurangan masing-masing individu, maka sebaiknya pimpinan memiliki keunggulan dalam kepribadian dan keberanian mengambil keputusan, sedangankan wakil unggul dalam kemampuan berfikir. Keputusan harus diambil seorang pemimpin, agar dalam pengambilan keputusan tidak arogan atau semaunya sendiri maka harus memiliki kepribadian yang baik.  Dengan kepribadian yang baik seorang pemimpin akan memperhitungan kelebihan kemampuan berfikir wakilnya, sehingga hasil keputusan benar-benar rasional dipandang dari semua sisi.

Sudah lama masyarakat mendambakan pemimpin yang mampu memberikan yang terbaik. Demokrasi akan terwujud bila masyarakat memiliki pilihan terbaik, memilih terbaik dan menerima yang terbaik. Calon pasangan pejabat publik seyogyanya  merepresentasikan keunggulan dalam kemampuan, kepribadian dan keberaian mengambil keputusan. Calon pasangan inilah yang diharapkan oleh masyarakat.

(Telah diterbitkan di Media Mataraman)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: