PERAN ORANG TUA DALAM PERKEMBANGAN ANAK DIDIK

PERAN ORANG TUA DALAM PERKEMBANGAN ANAK DIDIK

Oleh: Rino Desanto W.

Anak lahir bagaikan kertas putih. Akan menjadi seperti apa nanantinya anak tersebut banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Faktor genetis ada perannya, namun lingkungan keluarga dan lingkungan sosial demikian besar pengaruhnya terhadap pembentukan kejiwaan anak.

Waktu belajar anak di sekolah hanya beberap jam saja. Sebagian besar waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah dan luar rumah.

Bagaimana memanfaatkan waktu panjang di rumah dengan kegiatan yang bermanfaat bagi anak? Jawabnya sederhana, berikan apa yang menjadi konsumsi anak.

Anak butuh kasih sayang, perhatian dan pengertian dalam porsi yang lebih besar dari orang dewasa.

Anak dalam banyak hal belum bisa berfikir abstrak. Apa yang dilakukan lebih banyak mencotoh kegiatan dan perilaku orang dewasa. Anak lebih suka bermain dan berimajinasi. Dengan pemahaman ini maka orang tua harus mampu menyediakan apa yang dibutuhkan anak.

Saat di rumah atau libur adalah waktu paling baik bagi orang tua mencurahkan kasih sayang dan perhatian kepada anaknya. Berikan waktu untuk anak bermain kotor-kotoran seperti tanah, air, lumpur dan sebagainya. Jangan distop kalau anak terlihat bicara sendiri dengan mainannya. Itu adalah konsumsinya.

Banyak dari orang tua melarang anaknya coret-coret tembok rumah. Tanpa tahu apa sebenarnya yang diinginkan anak. Anak butuh perhatian, dia ingin gambarnya walaupun dalam bentuk goresan-goresan yang tidak kita pahami mudah dilihat, diperhatikan orang lain dan dipuji. Tanpa disadari anak melatih jarinya menjadi lebih kuat sehingga pada waktunya nanti akan dapat menulis dengan baik.

Apa akibatnya bila anak dilarang mencoret-coret dinding ruma?. Kita akan melihatnya nanti setelah mereka remaja, misalnya dengan mencoret-coret tembok atau dinding pagar di pingir jalan, ditempar pariwisata, di WC umum dan sebagainya. Ini semua akibat dari keinginan atau dorongan bawah sadar. Keinginan-keinginan yang tidak tersampaikan akan mengendap di bawah sadar, dan pada waktunya nanti akan keluar dalam bentuk perilaku kekanak-kanakan, tanpa disadari.

Bagaimana agar konsumsi anak terpenuhi tapi tidak merusak lingkungan rumah? Fasilitasilah mereka! Apa salahnya bila dinding rumah dilapisi kertas agar anak bebas mencoret-coret dan setelah penuh bisa dilepas. Belikan mereka selang air, agar waktu mandi bisa sedikit berlama-lama dengan bermain air. Banyak lahan rumah kita tertutup dengan keramik atau pafin, sehingga tidak tampak tanahnya. Kalau kondisinya demikian, belikan mereka sedikit tanah atau pasir untuk bermain.

Anak lebih banyak mencontoh perilaku orang yang lebih dewasa, apa yang harus dilakukan orang tua? Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Karena anak lebih banyak mencontoh orang tuanya. Seorang anak tukang kayu misalnya, karena setiap hari anak lebih banyak melihat orang tuanya berkecimpung dengan kayu, maka anak juga akan meniru memegang kayu, mengamati kayu kemudian bermain-main dengan dengan kayu dan sekali-kali bila ada kesempatan mencoba peralatan tukang kayu yang dipakai orang tuanya. Karena sudah familiar dengan kayu dan peralatannya dan mungkin mencintainya, maka besar kemungkinan akan lebih mudah bagi anak nantinya untuk menjadi tukang kayu dari pada bekerja di bidang lain, yang sama sekali masih baru.

Sedemikian kuat pengaruh lingkungan terhadap anak, dengan pola mencontoh tadi, apa yang seharusnya dilakukan orang tua? Orang tua harus konsisten! Kalau tidak ingin anaknya minum minuman keras, sebaiknya jangan minum minuman keras. Kalau orang ingin mrngajarkan kebersihan, orang tua harus membuang sampah pada tempatnya. Kalau orang tua ingin anaknya pintar, orang tua harus sering membaca agar agar anak mencontohnya.

Bagaiamana bila orang tua tidak konsisten antara ucapan dengan perilaku? Anak akan dilematis, bingung dan mencari pembenaran di lingkungan luar rumah. Dalam jangka panjang dapat mengakibatkan kepribadian ganda.

Perlu mendapat perhatian antara lain adalah gaya ektrim orang tua. Orang tua yang sering melarang anaknya melakukan aktifitas karena berbagai macam alasan dapat berpengaruh pada keberanian anak dalam mengambil keputusan, apakah ssuatu aktifitas baru boleh dilakukan atau tidak. Akibatnya anak lebih sering diam diri dan tidak tidak banyak aktifitas. Demikian juga sebaliknya, bila dibiarkan saja dalam semua hal maka bisa saja terlalu berani untuk melakukan aktifitas yang mungkin berbahaya bagi adirinya, karena anak masih belum bisa memahami apakah yang dicontoh tersebut berbahaya atau tidak bagi dirinya. Biarkan anak bermain sepuasnya, namum hindarkan dari permainan yang membahayakan dirinya.

Dimulai dari mana anak-anak belajar? Belajar dimulai dari rumah oleh orang tua, mulai bagaimana membersihkan badan, cara makan yang baik, sambil makan ibu bercerita bagaaimana cara memasak makanan yang sedang dimakannya dan apa saja bahan dan bumbunya. Ketika ada waktu luang ayah mengajak anak bermain ke sawah untuk mengenal lingkungan hidup, memberitahu bahwa di sawah tersebut juga ada kehidupan fauna seperti katak, keong dan sebagainya.

Ada baiknya halaman sekitar rumah ditanami bergabai jenis tanaman termasuk mengajak anak untuk ikut menanam, agar mereka tahu bagaimana cara menanamnya dan memahhami adanya berbagai macam tanaman. Dengan demikian anak akan semakin memahami lingkungan hidupnya dan kelak setelah dewasa akan ikuit menjaga lingkungan hidup.

Bila orang tua mampu memberikan contoh yang baik, apalagi didukung oleh lingkungan sosial yang baik pula, maka tugas guru tidak akan sedemikian berat dan besar kemungkinan setelah dewasa akan menjadi orang yang mampu memberikan tongkat pada mereka yang buta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: