ADA APA DENGAN PENDIDIKAN KITA (Sebuah Renungan)

ADA APA DENGAN PENDIDIKAN KITA

(Sebuah Renungan)

Oleh : Rino Desanto W.

Melihat gejala miring yang terus bergulir, mulai dari yang menjerat generasi tua sampai yang menimpa generasi muda, mulai dari kasus PSSI, sinetron politik, kasus korupsi, mafia pajak, mafia kasus, sampai dengan tawuran antar pelajar, keberingasan geng jalanan, pengantin teroris dan sebagainya. Semua gejala tersebut sudah seharusnya membuat mata kita terbuka. Terutama dunia pendidikan, harus mau mengkoreksi diri. Perilaku generasi sekarang ini tidak lepas dari pendidikan tempo dulu.

Apa yang salah dengan pendidikan kita. Benarkah kita telah benar-benar mendidik. Dalam hal pengajaran saya percaya sudah berjalan dengan baik, ini terbukti banyaknya orang pintar di negeri ini. Tetapi dalam hal pendidikan kita masih harus melihat lebih dalam, mengingat banyaknya kasus hukum dan pelanggaran etika yang tidak mencerminkan kepribadianIndonesiayaitu Pancasila.

Dari sisi kognitif saya akui pendidikan kita sudah hebat. Tetapi pada sisi afektif, masih perlu direnungkan lagi. Apa yang telah kita perbuat untuk generesi yang sekarang sudah remaja atau dewasa.

Sebagai mahluk hidup sudah barang tentu kita membutuhkan makan untuk survive. Sebagai manusia kita juga membutuhkan makan tetapi tidak cukup hanya makanan untuk perut. Lebih dari itu manusia juga membutuhkan makanan untuk otak.

Manusia terdiri dari tiga bagian yaitu badan, fikiran dan jiwa. Kedua jenis makanan untuk badan dan fikiran sudah di peroleh. Sekarang masih ada satu lagi yang perlu mendapat perhatian yaitu makanan untuk jiwa.

Manusia yang kurang makan tidak akan memiliki kekuatan baik fisik maupun kecerdasan. Demikian juga bila kekurangan makanan jiwa, maka yang terjadi tidak memiliki perasaan. Tampaknya makanan untuk jiwa inilah yang sekarang masih kurang dan perlu mendapat perhatian khusus.

Melihat banyaknya kasus yang terjadi di sekitar kita, memberikan gambaran bahwa mereka yang terlibat kasus pada dasarnya hanya memiliki sedikit perasaan. Sudah saatnya dunia pendidikan memberikan perhatikan besar agar anak didik kita utamanya yang sekarang masih duduk di TK dan Pendidikan Dasar memperoleh asupan dalam porsi seimbang dari ketiga makanan tersebut. Keseimbangan ini perlu mendapat perhatian. Asupan perut saja hanya membuat orang kuat secara fisik. Asupan otak saja hanya membuat orang pintar. Sedangkan asupan jiwa saja hanya membuat orang penuh perasaan. Ketiganya harus harus diberikan dalam porsi seimbang, agar terbentuk manusia produktif, kreatif dan penuh tenggang rasa.

Sementara ini banyak waktu kita habiskan untuk memberikan asupan otak. Pendididkan kita telah menghasilkan banyak orang pintar, tetapi rasa Indonesianya lemah. Memandang segala sesuatu dari kacamata kepentingan pribadi dan kelompok, tidak lagi melihat dengan kacamataIndonesia. Memandang segala sesuatu dari kacamata untung dan rugi, dengan mengabaikan rasa malu.

Saya khawatir, guru-guru kita hanya memiliki sedikit waktu untuk memberikan asupan jiwa pada anak didiknya dikarenakan tekanan Ujian Nasional yang masih terus mendera. Bila demikian sudah saatnya Ujian Nasional mendapat evaluasi untuk kepentingan yang lebih besar di masa mendatang. Sudah saatnya tata perilaku kehidupanIndonesiakembali dimasukkan dalam pembelajaran pada Pendidikan Dasar, Menengah dan Tinggi.

Ini bukan semata-mata hanya tugas bidang pendidikan. Semua unsur masyarakat harus memberikan dukungan yang intens, baik dalam bentuk contoh perilaku maupun menyediakan rambu-rambu.

Saya mendambakan semua orang berfikir dan bertindak untukIndonesia, bangga dengan darah yang mengalir di tubuhnya dan berperilaku alaIndonesia, menikmati segala suatunya dengan rasa Indoensia. Bila ini bisa dicapai maka semakin kecil kemungkinan orang yang melarikan diri atau melarikan uangIndonesiake negeri orang, semakin kecil kemungkinan orang mengemplang pajak, berebut kursi dengan cara-cara kurang elegan, mengabaikan rasa keadilan masyarakat dan sebagainya

Ini semua bukan tugas ringan, ini tugas kita bersama. Utamanya para pendidik pada pendidikan dasar, mereka mempunyai tanggung jawab besar membentuk karakter anak yang masih polos. Mereka berada pada posisi depan, menyiapkan generasi untuk masa depan bangsa.

(Telah diterbitkan di Krida Rakyat)

2 Komentar

  1. Cenya95 said,

    Juni 6, 2011 pada 1:44 am

    Thanks ! This post is awesome !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: