SULITNYA MEMINTA MAAF DAN BERTERIMA KASIH

SULITNYA MEMINTA MAAF DAN BERTERIMA KASIH

Oleh: Rino Desanto

Hampir setiap perselisihan yang terjadi di sekitar kita bermula dari ego yang sangat tinggi atau boleh saya katakan kelewat tinggi. Mulai dari pertengkaran rumah tangga hingga sinetron di parlemen bermula dari keangkuhan individu, yang senantiasa merasa dirinya lebih tinggi, yang merasa dirinya lebih terhormat, yang merasa tidak selayaknya dirinya meminta maaf kepada orang yang stratanya dibawah dirinya.

Tapi tahukah kita bahwa dibalik semua alasan itu tergambar kekerdilan diri. Mereka yang tidak berani meminta maaf sebenarnya memiliki jiwa kerdil. Dia sudah jelas-jelas kalah berjuang melawan kekerdilannya sendiri. Seribu alasan bisa dibuat dalam sehari. Namun ketidakberanian meminta maaf tetaplah menggambarkan kekalahan perjuangan melawan diri sendiri.

Kalau kita mau bernalar dengan jiwa besar, tidak ada yang sulit dengan meminta maaf. Pertama, lidah kita tidak bertulang. Kedua, kata maaf tidak perlu dibeli. Namun kita telah banyak mendapatkan contoh dari orang yang sepatutnya menjadi contoh bagi warganya, berperilaku kurang terpuji tapi tidak pernah mengakui tindakkannya dengan berbagai cara mencari celah hukum agar terhindar dari jerat hukum dan menjauhkan diri dari kata maaf. Padahal kalau mereka mau mengakui kesalahan yang telah mereka perbuat dan meminta maaf dengan santun, tentu masyarakat akan dapat memaafkan dan menerimanya lagi sebagai warga negara yang baik. Karena kita semua paham bahwa manusia bukan mahluk sempurna, setiap manusia tentu pernah berbuat salah apapun bentuknya.

Semua dimulai dari diri sendiri. Namun bila orang yang kita segani memberikan contoh yang kurang arif tentu warga pengkikut juga akan banyak berbuat serupa. Sebaliknya, bila mereka mau menunjukkan kearifannya, tentu orang yang dibawah akan segan dibuatnya.

Piring bertemu piring tentu mudah retak. Gelas bertemu gelas tentu mudah pecah. Pernahkah kita berpikir untuk sedikit berendah hati dengan menjadikan diri sebagai kapas? Berendah hati bukan berarti merendahkan diri. Berendah hati justru akan menaikkan nilai diri dihadapan orang lain. Bila salah satu dari kita mau menjadi kapas, maka tidak akan ada keretakan atau perpecahan. Orang akan senantisa melihat kita dengan elegan.

Sungguh disayangkan, di masyarakat kita senantiasa diajarkan agar mau memaafkan orang yang meminta maaf kepada kita, tetapi kita tidak diajarkan bagaimana caranya meminta maaf kepada orang lain, dan apa kelebihan bagi mereka yang terlebih dahulu meminta maaf ketika terjadi perselisihan.

Saya selalu perpikir bahwa manusia yang pantas disebut sebagai orang besar, salah satunya pointnya berani meminta maaf lebih dahulu. Saya katakan lebih dahulu, karena banyak perselisihan ternyata dimainkan oleh kedua belah pihak. Gesekan korek api tidak akan membuahkan api bila tidak ada oksigen disekitarnya. Sudah saatnya kita koreksi diri atas perilaku kita dengan perbuatan sederhana seperti meminta maaf.

Demikian juga dengan ucapan terima kasih. Orang di sekitar kita sudah terbiasa berucap terima kasih sampai berulang-ulang bila diberi susuatu oleh orang besar, walaupun kita semua tahu bahwa pemberian  tersebut atas nama instasi. Tetapi sebaliknya, bila pemberian datang dari orang kecil, terasa berat untuk mengucapkan terima kasih, terkecuali ada maunya, misal saat mendekati pilkada.

Tulisan ini terinspirasi ketika pagi berangkat kerja dimana terlihat di setiap persimpangan jalan ramai kedaranan berlalu lalang. Setiap pengendara inginnya lewat duluan dan berharap yang lain mengalah. Ternyata, mengalah itu lebih sulit dari ucapan. Untungnya ketika itu pak polisi segera datang dan dengan sigap mengatur arus lalu lintas sehingga setiap pengendara merasa lebih nyaman ketika melewati pertigaan atau perempatan terutama yang tidak ada trafficlightnya.

Apa yang saya lihat membuat saya berdecak, tidak satu pun dari pengendara yang mengucapkan terima kasih. Kata yang terdiri dari hanya lima suku kata ini tidak pernah terpikirkan oleh pengguna jalan. Padahal dengan kata terima kasih bisa memotivasi pak polisi lebih semangat dalam mengatur lalu lintas, karena merasa usaha dan pekerjaannya bermanfaat dan dihargai masyarakat. Pengatur lalu lintas juga manusia, meskipun mengatur lalu lintas memang sudah menjadi tugas dan pekerjaannya tetapi sebagai manusia saya percaya mereka akan lebih senang bila dihargai atas pekerjaannya meskipun hanya dengan kata terima kasih.

Kata terima kasih, adalah kata yang indah, kata yang mampu mencairkan kebekuan, kata yang mampu menjembatani perbedaan, kata yang mampu meningkatkan percaya diri, kata yang mampu meningkatkan harga diri baik bagi penerima maupun yang memberi. Kita dapat menggunakan kata terima kasih kapan saja kita mau sesuai kondisi dan waktu.

Memang kata terima kasih sering terdengar di forum-forum formal, dimulai dari terima kasih kepada Yang Maha Esa, terima kasih kepada tamu yang hadir, terima kasih atas jamuannya. Dalam kondisi formal, tentunya kata terima kasih tidak ditujukan pada orang per orang, tetapi lebih merupakan formalitas prosedural yang harus dilalui. Dalam kondisi non formal lebih banyak dari kita melupakannya. Kadang kita merasa harga diri kita lebih tinggi sehingga merasa tidak selayaknya berterima kasih atas pemberian orang lain. Padahal sikap tersebut justru menampakkan kekurangan kita.

Sudah saatnya kita bercermin diri, apa yang telah kita lakukan dan berikan pada orang lain meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana seperti ucapan terima kasih. Termasuk apa yang telah kita lakukan kepada negeri ini sebagai tanda terima kasih kita atas apa yang telah kita terima selama ini. Bangun pagi kita hirup udara segar negeri ini, sarapan pagi berbahan hasil bumi negeri ini, bekerja menghasilkan uang juga dari negeri. Sudah sepantasnya kita berterima kasih pada negeri ini dengan perbuatan yang sederhana sekalipun, seperti mentaati rambu lalu lintas, tidak ngebut atau berjalan zigzag ditengah keramaian, belajar tekun bagi pelajar dan mahasiswa, mendidik dengan benar bagi orang tua, memberikan contoh yang baik bagi lingkungan sosial dan sebagainya.

(Telah diterbitkan di Krida Rakyat)

2 Komentar

  1. sunarti said,

    November 2, 2011 pada 7:19 am

    ma’af yang tak berani ku ucapkan karena terlalu sering semua lakuku disalahkan…semakin aku mengalah semakin keras terasa diinjak-injak
    salahkah bila berontakku demi terasa lebih baik kujalani hidup???
    ataukah aku pasrah namun damai terasa kian menyiksa
    semakin banyak kudengar semakin galau terasa…apakah aku terlalu banyak menyalahkan hidup??

    • rinomdn said,

      November 6, 2011 pada 2:31 am

      hidup itu indah. nikmatilah hiduo itu meski ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah.
      ketika di atas ingatlah bahwa itu jalan menuju ke bawah, niscaya tidaj akan takabur. ketika di bawah ingatlah bahwa itu jalan menuju ke atas, niscaya tidak akan sedih. musim gugur pertama datangnya musim semi. telor tetangga tampak lebih besar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: