TEORI TERBALIK (Sebuah Gejala Ketidakberaturan)

TEORI TERBALIK

(Sebuah Gejala Ketidakberaturan)

Oleh: Rino Desanto W.

Teori terbalik, adalah sebuah istilah yang dalam beberapa hal saya gunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak semestinya. Sesuatu yang kontradiksi dengan aturan, tatanan atau akal sehat. Teori terbalik merupakan sebuah gejala dari keetidakberaturan. Ketidakberaturan dalam kehidupan, ketidakberaturan dalam keteladan orang-orang yang semestinya menjadi suritauladan. Hal tersebut menunjukkan adanya sesuatu yang kurang, yang harus segera diisi, menunjukkan adanya penyimpangan yang harus segera diluruskan.

Salah satu contoh adalah terjadinya kecelakaan di traffic light. Ini suatu kejadian yang sangat aneh, karena secara nalar di traffic light merupakan tempat yang aman, dari empat arah sudah ada signal yang mengatur jalannya kendaraan secara bergantian. Kecelakaan ini terjadi dikarenakan pada saat lampu sudah merah masih ada pengendara berjalan, demikian juga pada saat lampu masih merah ada pengendara yang sudah berjalan. Jadi serba terbalik, kita masih belum merasa aman meskipun sudah ada traffic light.

Bahkan di SPBU juga sering terjadi hal serupa. Pada arah masuk masih banyak ditemui pembeli BBM yang keluar, begitu juga sebaliknya pada arah keluar sering ditemui pembeli BBM yang masuk. Belum lagi ketidaksabaran mereka dalam mengantri. Sering kita temui dari arah belakang langsung menuju ke depan, disamping antrian terdepan, sehingga yang terjadi bukan antri tetapi berbaris. Budaya antri belum melekat pada masyarakat kita. Situasi terbalik ini senantiasa membayangi sendi-sendi kehidupan kita.

Dari kedua contoh diatas membuat kita bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa masyarakat kita suka melanggar aturan, tidak sabaran, dan tega mengurangi hak orang lain?

Tidak adakah contoh yang baik selama ini untuk masyarakat kita? Coba kita  tengok sebentar bagaimana sepak terjang wong gedhe, terutama yang setiap hari menjadi bahan berita di mass meedia. Jangan-jangan mereka berperilaku tanpa mengindahkan keseimbangan antara hak dan kewajiban itu karena terinspirasi sikap beliau-beliau. Jika  benar , maka sudah saatnya bagi kita untuk koreksi diri.

Berbicara tentang teori terbalik, tampaknya masih banyak lagi disekitar kita. Salah satu contoh adalah, banyak orang tidak suka dikatakan miskin, tapi anehnya saat ada pembagian BLT, banyak yang mengaku miskin. Demikian juga pada saat ada pembagian zakat, banyak yang datang berduyun-duyun hingga memakan korban. Dimana budaya malu kita? Apakah ini juga terinspirasi oleh berita-berita yang menayangkan bentuk ketidakmaluan beberapa wong gedhe.

Siapapun akan tersinggung bila dikatakan bodoh, namun kenyataan tidak bisa dipungkiri masih banyak juga yang mencari pengobatan pada anak kecil yang sama sekali tidak faham masalah medis, yang mereka sebut sebagai dukun tiban atau apapun namanya. Apakah kita sudah kehilangan akal sehat kita? Saya berharap bahwa gejala seperti ini tidak dikarenakan terinspirasi oleh siapapun, dan menjadi koreksi bagi kita bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai, terutama dinas terkait.

Pada waktu saya memberi pengarahan pada suatu acara, saya sempat heran melihat tempat duduk baris depan kosong bahkan tempat duduk baris kedua hanya terisi beberapa orang. Namun anehnya, ketika saya ke SPBU dan Stasiun Kereta Api saya sering banyak orang berusaha menempati urutan paling depan bahkan, berebut dan saling mendahului antrian. Gejala apakah ini? Apakah mereka belum siap untuk menjadi yang terdepan? Tetapi kenapa mereka berebut tempat paling depan ketika di SPBU dan Stasiun Kereta Api. Jangan-jangan kita telah salah memberikan informasi, sehingga pola berpikir orang-orang ini serba terbalik.

Saya sempat kasihan saat melihat seorang kakek yang sedang berjalan di atas trotoar, harus turun ke badan jalan, hanya karena trotoar yang mestinya buat pejalan kaki, didirikan toko dan warung permanen. Padahal kita semua tahu bahwa berjalan di badan jalan sangat tidak aman. Lagi-lagi kenapa mereka begitu berani mengambil yang bukan haknya, dengan telanjang mata mengangkangi aturan. Apakah tidak ada dinas yang mengatur, ataukah mereka yang tidak bisa diatur. Lalu, untuk apa dibuat peraturan? Mudah-mudahan mereka melakukan ini bukan kerena terinspirasi oleh siapapun tetapi murni karena ketidaktahuan.

Saat melihat tayangan televisi saya sempat menggelengkan kepala, betapa tidak. Di sekolah anak dibimbing agar bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, berpenampilan rapi dan diarahkan agar berprestasi berprestasi. Tetapi apa yang ditontokan televisi kita sungguh kotradiktif, hampir semua sinetron menyajikan bahasa acak-acakan, mempertontonkan kehidupan anak sekolah yang tidak produktif, baju sekolah tidak dimasukkan, menampilkan gaya hidup mewah, terus menerus membicarakan cinta dan bukan prestasi. Siapapun yang menonton televisi kita terutama acara sinetron tentu akan berfikir bahwa kehidupan masyarakat kita itu demikian bebas dan makmur. Tetapi kenyataan terjadi justru sebaliknya masyarakat kita masih banyak yang menjerit di ruang gerak yang sempit

Demikianlah kondisi yang ada disekitar kita, banyak yang  terbalik. Namun demikian, masih ada juga yang tidak terbalik yaitu peribahasa ”tong kosong berbunyi nyaring” dan ”air beriak tanda tak dalam”. Pengendara sepeda motor yang knalpotnya memekakkan telinga pada umumnya tidak termasuk kelompok jenius. Demikian juga mereka yang suka ngebut di jalan raya pada dasarnya tidak memiliki pemahaman yang dalam bahwa jalan raya tersebut sebenarnya benda umum. Mereka tidak memiliki pemahaman yang dalam bahwa semua warga berhak atas penggunaan benda umum sebagai kompensasi pajak yang telah dibayarkan. Kalau mereka paham tentu mereka akan menghargai sesama pengguna jalan, tidak ngebut seenaknya dan menimbulkan rasa takut pada pengguna jalan yang lain.

(Telah diterbitkan di media Mataraman)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: