CINTA TANAH AIR, APAKAH KITA MILIKI?

CINTA TANAH AIR

APAKAH KITA MILIKI?

Oleh:  Rino Desanto W.

 

Cinta atau kasih sayang dimulai dari keluarga. Kasih sayang yang diberikan kedua orang tua dan saudara, saat anak masih kecil dan remaja akan tergambar pada perilaku anak di masa berikutnya. Semakin besar kasih sayang diberikan oleh keluarga semakin besar rasa cinta yang dimiliki anak. Demikian besar cinta yang dimiliki, sehingga bisa memberikan rasa cintanya kepada orang lain, kepada hewan, tumbuhan dan juga kepada tanah air.

Bagi mereka yang kurang beruntung, dibesarkan dalam lingkungan yang tidak atau kurang memberikan kasih sayang, menjadikan mereka berperilaku tanpa menghiraukan orang lain bahkan dalam beberapa situasi tega melakukan kekerasan pada orang lain tanpa belas kasih sedikitpun. Sebenarnya mereka ini termasuk orang yang perlu dikasihani. Bila boleh memilih tentu mereka akan memilih dilahirkan dari keluarga bahagia penuh kasih sayang dan dibesarkan dalam lingkungan yang senantiasa memberikan perhatian.

Bersyukurlah kita yang sekarang ini memiliki banyak kasih sayang, yang memelihara dan menyayangi hewan peliharaan, ikut merawat dan menyayangi tumbuhan di taman, dan tentunya masih memiliki banyak cinta untuk diberikan kepada tanah air. Meskipun tidak sedang berada di tanah air, bila kita memiliki banyak cinta untuk tanah air tentu akan berusaha berbuat banyak untuk negeri ini, menjaga nama baik Negara, memperkenalkan kepada bangsa lain ragam budaya yang kita miliki, selalu mengikuti perkembangan negeri ini dan berusaha memberikan masukan untuk perbaikan.

Namun sebaliknya, bila tidak memiliki cinta dalam dirinya, bagaimana mungkin dapat memberikan cinta kepada orang lain apalagi kepada Negara, yang terjadi mereka lebih cenderung melakukan perbuatan-perbuatan merusak fasilitas-fasilitas umum yang disediakan oleh Negara, menghujat dan mencederai symbol-simbol Negara, dari pada menjaganya atau merawatnya. Ini pekerjaan rumah kita bersama, bagaimana agar perilaku-perilaku yang diteropong, kedepannya menjadi lebih arif.

Alangkah baiknya bila orang tua bisa menyediakan waktu cukup untuk anak-anak, agar anak memperoleh kasih sayang melimpah, yang sangat berguna bagi perkembangan psikis anak ke depannya, agar anak memiliki banyak cinta. Sehingga biarpun mereka telah membagikan kue cintanya kepada keluarga, lawan jenis, benda yang memiliki arti tertentu, hewan, tumbuhan dan lingkungannya, mereka masih memiliki kue cinta untuk diberikan kepada tanah airnya.

Selain orang tua, guru juga memiliki peran penting, sebab sebagian waktu anak ada disekolah. Walaupun anak didiknya bukan darah dagingnya, guru diharapkan bisa berperan sebagai orang tua bagi anak didiknya, diharapkan dapat memberikan kasih sayang penuh. Demikian juga perlakuan lingkungan terhadap anak diharapkan dapat mendorong proses perkembanga jiwanya. Jangan sampai terjadi sebaliknya, dimana anak cenderung anak acuh tak acuh terhadap sekitarnya bahkan terhadap dirinya sekalipun

Siapapun mereka yang hanya memikirkan diri dan kesenangan dirinya sebenarnya hanya memiliki sedikit cinta. Bahkan mereka yang tidak menghiraukan dirinya sendiri boleh jadi tidak memiliki cinta, sampai-sampai cinta pada diri sendiri tidak juga dimiliki. Pada kelompok ini kita tidak bisa berharap banyak agar mereka ikut menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk negeri ini. Tapi mereka tetap memiliki potensi, seperti apapun mereka masih mungkin diharapkan menjadi lebih baik dan berguna bagi nusa dan bangsa.

Kelompok ini harus memperoleh perhatian lebih. Kelompok ini memberikan inspirasi pada kita untuk meluruskan yang bengkok, mengumpulkan yang tercecer, dan memperbaiki yang salah.

Berbeda dengan mereka yang lahir dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang, mereka memiliki cinta yang melimpah. Cukup dengan memberikan contoh yang baik, mereka akan terdorong memberikan sebagian dari cinta yang dia miliki untuk diberikan kepada negeri ini.

Namun demikian bukanlah persoalan mudah dalam hal memberikan contoh yang baik. Bahkan seringkali kalau kita melihat berita atau kejadian di negeri ini, masih banyak memperlihatkan contoh yang tidak baik. Ini sungguh kontradiktif, saat anak muda membutuhkan contoh yang baik, sementara itu perilaku orang dewasa masih banyak mempertontonkan ketidakdewasaan mereka. Ini bukan tugas ringan bagi kita yang menganggap diri dewasa. Bahkan sebagai orang dewasa belum cukup hanya memberikan contoh baik kepada yang muda, lebih dari itu juga diharapkan bisa memperbaiki kesalahan dan menumbuhkan rasa cinta anak muda kepada negeri ini.

Menjadi seperti apakah wajah negeri kedepan banyak bergantung bagaimana saat ini kita memoles wajah generasi muda sekarang, salah satunya dengan memberikan contoh dan mendorong mereka untuk berkreasi, berbuat banyak untuk negeri. Inilah salah satu bentuk kecintaan kita kepada negeri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: