MENTAL SUKA MENOLONG (SEBUAH AKTUALISASI)

MENTAL SUKA MENOLONG (SEBUAH AKTUALISASI)

Lingkungan sekitar banyak terdapat banyak komunitas. Siapapun bisa masuk dalam komunitas yang cocok dengan kebutuhan batinnya. Mulai dari komunitas sepeda ontel sampai komunitas pendengar setia radio semua telah ada, kapanpun menginginkan bisa bergabung di dalamnya.

Namun demikian menemukan sebuah komunitas yang di dalamnya bergabung orang-orang yang memiliki hobi sama yaitu suka menolong bukanlah hal mudah. Bahkan banyak sekali kisah tentang orang yang seharusnya pantas menolong tetapi justru minta tolong, termasuk didalamnya orang yang lebih suka memiskinkan diri saat datang bantuan.

Ini masalah mental sosial yang tidak terbangun sejak dini. Memang pada kenyataannya banyak orang menolong orang lain dengan segala kelebihannya. Menolong tidak harus dengan uang atau barang. Menolong dapat dilakukan dengan memberikan kelebihan yang dimiliki, bisa dalam bentuk ilmu pengetahuan, ketrampilan, barang, uang, tenaga dan pemikiran serta lainnya.

Tetapi banyak juga dari kita yang sering menolong orang lain, tetapi bukan didasarkan atas rasa iklas dan menimbulkan rasa senang karena telah menolong. Pertolongan tersebut penuh dengan harapan akan keuntungan, karena dalam menolong masih ada embel-embel memperoleh sesuatu, jadi semacam barter. Contohnya memberi bantuan dengan harapan-harapan, apapun bentuk harapan tersebut, mungkin ingin terkenal, agar bisnisnya bertambah lancar, mungkin ingin balasan yang lebih besar dari Yang Maha Esa, mungkin juga ingin bertambah massa. Contoh tersebut menunjukkan menolong tidak dalam arti sebenarnya, tidak lebih dari berdagang dengan mengharapkan keuntungan yang besar.

Menolong hanyalah suatu alat untuk memperoleh sesuatu yang lebih besar. Mungkin ada yang mengatakan, saya menolong tidak berharap apa-apa, tetapi hanya ingin dihargai. Ketika seseorang masih menginginkan sesuatu yang lebih besar termasuk didalamnya penghargaan, berarti belum memberi. Menolong adalah memberi tanpa pamrih, menolong dengan rasa suka, menolong sebagai aktualisasi diri. Ketika menolong sebagai bentuk aktualisasi diri, maka orientasinya hanya memberi. Kalau masih mengaharapkan dari orang lain walaupun dalam bentuk penghargaan, belum dapat dikatakan sebagai aktualisasi diri.

Hirarki kebutuhan manusia yang paling tinggi adalah aktualisasi diri dan dibawahnya adalah memperoleh penghargaan. Dari sikap perilaku manusia itulah maka kita bisa menyimpulkan apakah seseorang telah mencapai pada tingkat hirarki pemenuhan kebutuhan yang paling tinggi atau masih di bawahnya. Kelebihan yang dimiliki sesorang belum tentu berhubungan langsung dengan sikap mental mereka.

Ada orang kaya memberikan bantuan dengan permintaan untuk mencoblos tanda gambar mereka. Itu berarti tidak menolong tetapi sebaliknya minta tolong. Tetapi ada juga orang yang kurang mampu memberikan makan pada mereka yang sedang berada di pengungsian, walaupun mereka tidak saling mengenal. Menolong tidak mengenal batas, memberi tidak dibatasi. Sangat penting, memberi pada orang yang pantas diberi, menolong orang yang pantas ditolong, jangan sampai ada kesan menggarami air laut.

Berpijak dari apa yang telah diuraikan di muka, maka tidak ada salah jika ada sebuah komunitas suka menolong, sehingga pertolongan dari komunitas ini tidak membebani mereka yang ditolong. Jika memberikan bantuan di daerah bencana dengan membawa bendera tertentu, hal tersebut justru akan memberikan beban mental pada penerima bantuan. Di satu sisi mereka butuh bantuan, tetapi di sisi lain bantuan datang dengan bendera yang mungkin tidak sesuai dengan seleranya. Ini justru menambah beban bagi mereka yang sangat membutuhkan bantuan.

Di muka telang disinggung masalah mental yang tidak terbangun sejak dini. Benar, sejak masih balita kita lebih sering disuapi dalam segala hal, lingkungan kita mengajarkan sedikit bekerja banyak uangnya, bahkan kalau bisa kaya tanpa bekerja. Bahkan, sering pula menghalalkan segala cara demi memperoleh sesuatu. Siang malam selalu bermimpi memperoleh hadiah besar.  Sebaliknya, kita tidak pernah bermimpi kapan bisa memberikan hadiah pada orang-orang di sekitar kita, kapan bisa berperan serta mengangkat hakat hidup masyarakat di lingkungan sekitar kita.

Kita hanya diajarkan bagaimana menerima dan memperoleh, tetapi tidak dengan bagaimana memberi dan membantu. Kesadaran ini sudah saatnya mulai dibangun sejak dini agar menjadi sebuah menara indah, yang dapat meneduhkan orang-orang yang berlindung di dalamnya. Terkait pembentukan mental ini perlu juga kiranya dipikirkan oleh semua pihak, agar ke depan pembelajaran di sekolah, di rumah dan di masyarakat dapat saling mendukung terbentuknya mental aktualisasi diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: