TAWURAN ANTAR KELOMPOK

TAWURAN ANTAR KELOMPOK

Oleh: Rino Desanto

Enam puluh tujuh tahun negara merdeka, ini bukan waktu yang pendek. Cermin panjang terbentang di depan kita, betapa terhenyak setelah memandang ke dalam cermin. Begitu banyak kasus tawuran antara warga desa, antar pelajar ataupun antar kelompok kepentingan lainnya. Semua kejadian tersebut menggambarkan kemunduran peradaban. Meskipun sudah sekian lama mengisi kemerdekaan, namun kenyataan di lapangan menunjukkan masih adanya perilaku zaman primitf.

Sebuah kontradiksi tak terhindarkan. Sebuah pengalaman pahit bagi bangsa berbudaya. Sebuah anak panah yang menghujam dunia pendidikan. Sebuah pengalaman yang membuka mata kita baik sebagai orang tua, masyarakat, maupun guru, betapa selama ini kita telah menempatkan biji jiwa di tanah yang kurang subur, tidak dipelihara dengan baik sehingga pohon jiwa tumbuh tidak seperti yang diharapkan, dan akhirnya daunnya banyak yang mengering.

Daun kering mudah terbakar, meski hanya disulut dengan korek api. Berbeda dengan pohon tumbuh di tanah gembur, setiap hari disiram air, pada waktu tertentu diberikan pupuk, tentu akan tumbuh subur, berdaun hijau lebat, meneduhkan orang yang ada dibawahnya dan buahnya berguna bagi orang banyak. Seperti itulah kiranya gambaran kejiwaan kelompok-kelompok yang mudah tersulut api pertengkaran. Mereka tumbuh dengan pemeliharaan kurang memadai.

Kurikulum yang selama ini berjalan tampaknya masih perlu disikapi dengan arif. Untuk asupan otak sudah memadai, tetapi untuk asupan jiwa masih perlu dikritisi. Manusia hidup tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan perut dan otak tetapi juga perlu diimbangi dengan makanan untuk jiwa. Ketiga makanan untuk perut, otak dan jiwa harus proporsional dan sehat, agar tumbuh sebagai manusia berbudaya, sehat secara fisik dan jiwa.

Sangat menyedihkan bila situasi di rumah kurang kondusif, setiap hari anak disuguhi dengan pemandangan ketidakadilan dan penyelesaian masalah dengan kekerasan. Walhasil anak tumbuh dengan jiwa kering, maka tidak mengherankan bila diluar rumah perilakunya seringkali melanggar norma-norma dan kurang beradab.

Demikian juga suasana lingkungan sering juga memperlihatkan kesewenangan dan kearogansian, dapat memperparah penyimpangan pertumbuhan jiwa.

Inilah gambar latar belakang masalah tawuran yang sering terjadi di negeri tercinta ini. Benang kusut ini harus segera diurai. Ini tanggung jawab kita bersama, bisa jadi tanpa kita sadari kita pun juga menjadi bagian dari benang kusut ini.

Mari kita berikan contoh pada generasi penerus, meletakkan masalah yang ada disekitar kita dengan penuh kearifan. Memandang masalah hingga ke akarnya, agar benar-benar tahu apa yang menyebabkan pohon peradaban tidak tumbuh subur. Apakah akarnya dimakan semut. Apakah akarnya terjepit batu besar. Bila akarnya sehat, pertanyaan berikutnya adalah apakah penyiraman dan pemupukan dilakukan secara berkala. Hingga benar-benar ditemukan dasar masalah yang sebanarnya dan dapat dilakukan upaya pembenahan dikemudian hari.

Sudah saatnya pendidikan di sekolah, pendidikan di rumah dan pendidikan lingkungan berjalan bersama guna mendukung pertumbuhan jiwa yang sehat bagi genersi muda, menuju bangsa beradab. Jangan sampai tawuran dalam bentuk apapun oleh pihak manapun terjadi. Seharusnya kita malu, hampir setiap hari ada suguhan berita tentang tawuran antar kelompok. Ini bukan masalah sederhana. Bila diperlukan shok terapi, apa salahnya untuk dilakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: