KERINDUAN

Puisi Rino Desanto W.

Waktu Tak Tentu
Ada rindu menunggang embun menggelepar di ujung rumput
Berharap angin selatan datang mengusap debar
Rambut panjang masih membalut bumi timur tak jua mendengar degup ini

Rindu
Dahaga kian mendasar
Hujan romantika hanya sejengkal
Perahu rindu kehilangan arah
Tempat berlabuh menjauh
Di atas dahan mata elang sayu
Harap cemas temukan pulau betina

Berulang
Pagi tak pernah ingkar
Datang saat mata lelah memejam
Datang demi menatap indah bola matamu
Datang demi mencium harum tubuhmu
Setia menemani meski badai mengangkat bumi
Pergi saat mentari singgah diujung galah
Esok kembali demi seorang putri

Hari Ini
Sesosok awan mendekati wanita selatan kota
Serahkan tiga bongkah cahaya terang
Satu cahaya di telapak kanan melukis kisah hidup
Satu cahaya di belahan dada meresep hati jiwa
Satu cahaya di bawah ranjang menerangi mimpi
Bisiknya cahaya ini dari perasaan paling dalam

Pintaku
Bukan memelukmu tak kulepas
Bukan menciummu habiskan nafas
Bila kau keluar sangkar pintaku satu
Menatapmu tanpa batas
Esok kau boleh lupakan aku
Menari mandi dalam istana sempit
Mendulang kepasrahan

2 Komentar

  1. Oktober 23, 2014 pada 10:30 am

    pak, puisinya bahasanya tinggi banget

  2. rinomdn said,

    Oktober 24, 2014 pada 2:10 am

    Tinggi atau rendah bergantung posisi kita memandang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: