WAKTU KE WAKTU

Puisi Rino Desanto W

Merangkai Senyum
Malam itu bulan meredup
Laki-laki kurus di ujung jalan
Berdiri terpaku menatap lorong gelap
Tak berani melangkah tak sanggup berpaling
Tak selamanya gulita surya bangun
Berlari menerjang belantara
Terengah tersungkur bangkit
Datanglah siang menyajikan kilau emas

Gundah
Kemarin aku meraba-raba dinding beku
Berharap menyentuh tongkat menuntun
Menelisik suaramu ditelan perut bumi
Pagi ini angin timur melukis ujung daun
Bidadari menebar senyum
Gundahku sirna dibawah seruling teduh

Berkorban
Bocah beringus di bawah pohon
Menatap seberang jalan
Sorot matanya meruntuhkan bukit batu
Ada kemewahan tak terjangkau angan
Desahnya masih bolehkah memeluk harapan
Sekedar digandeng tangan-tangan halus
Kusapa kuangkat dagunya
Bisikku lihatlah dadaku
Disana masih ada cahaya untukmu
Ambillah bekali dirimu
Cahayaku takkan pernah habis

Rindu Sapamu
Kemarin kupasang telinga
Tak terlintas suaramu
Hari ini kubuka mata
Tak turun bayangan tubuhmu
Senyumku mengering
Ku rindu sapamu

Khayalan
Aku terbelenggu rindu
Gelisah mengurung hari
Khayalan diatas lahan kering
Berterbangan sirna bersama angin
Kulukis wajahmu kudekap erat
Aku tak berharap hujan sendu
Lama hati kerontang

Untukmu
Mungkin kau lupa
Mungkin kau tak ingin tahu
Hari ini berharga bagiku
Aku bersyukur ingat dirimu
Aku masih punya puisi untukmu
Kan kuberikan di hari indahmu

2 Komentar

  1. lisa said,

    Oktober 13, 2014 pada 3:00 pm

    Puisinya its okay ungkapan yg bermakna

  2. rinomdn said,

    Oktober 14, 2014 pada 12:55 am

    Tidak semua orang mudah memahami


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: