PENGAMEN PASAR PENGAMEN KAMPUNG

PENGAMEN PASAR PENGAMEN KAMPUNG
Oleh: Rino Desanto

Pengamen sebenarnya orang atau kumpulan orang penjual jasa.Mereka menjual seni suara atau suara indah dalam bentuk musik.Pembeli adalah pendengar yang menikmati jasa tersebutdan dengan sukarela memberikan uang sesuai jasa yang diterima.Biasanya mereka mangkal di tempat keramaian sepertistasiun dimana orang yang sedang menunggu kereta merasa terhibur dengan musik yang mereka alunkan dan dengan suka cita memasukan uang di tempat yang telah disediakan. Demikian juga di tempat-tempat lain yang banyak dikunjungi orang seperti tempat wisata, taman umum, maupun mall

Namun bukan pengamen seperti ini yang hendak saya bicarakan. Tapi lebih pada pengamen yang menjurus pada gaya pengemis. Beberapa kota sudah ada aturan tidak diperbolehkan mengamen di traffic light. Namun aturan yang mengatur pengamen tidak boleh masuk kampung, pasar atau kaki lima masih belum ada. Ini yang perlu menjadi pemikiran bersama.Kalau mengamen di lampu merah sudah jelas mengganggu pengguna jalan, karenanya dapat dibuatkan aturan larangan mengamen ditempat tersebut.

Sedangkan mengamen di pasar atau kampung lain permasalahannya. Utamanya pengamen muda berbadan sehat, musiknya tidak indah pula.Pengamen pasar atau pengamen kampung datang tidak diundang, setelah diberi uang receh langsung pindah lokasi walaupun baru separuh lagu. Pengamen kampung beroperasi tidak kenal waktu. Sedangkan pengamenpasar sering beroperasi pada pagi hari, saat banyak orang bekerja menjual dagangannya. Sungguh memprihatinkan, banyak diantara pedagang kecil di pasar itu sudah lanjut usia tapi sang pengamen tidak malu menerima uang receh dari pedagang tersebut, begitupun dengan pengamen yang masuk kampung, mereka datang berharap diberi uang receh terus pergi tanpa peduli apakah kehadiranya mengganggu atau tidak.

Masalah yang sedang dihadapi sekarang ini adalah masalah mental pengamen yang menjadi bagian dari generasi muda yang tidak malu dengan memposisikan tangan di bawah, dari pada menjadi pekerja kasar.Masyarakat ikut berperan dalam tumbuh kembangnya kebiasaan mengamen ini, dengan memberi uang receh kepada mereka,yang sebenarnya sama artinya dengan menjerumuskan mereka. Mereka merasa mendapat dukungan dari masyarakat bahwa mengamen itu tidak dilarang dan tidak memalukan, apalagi dapat dilakukan tanpa harus mengeluarkan banyak keringat. Motivasi untuk bekerja keras semakin hari akan semakin pudar.

Solusi yang bisa tawarkan adalah menghimbau masyarakat agar tidak memberikan uang kepada pengamen muda dan sehat. Memberikan pemahaman bahwa menjadi kuli batu, kuli pasir atau tukang angkut lebih terhormat dari pada memposisikan tangan di bawah.Pemerintah secepatnya ikut hadir dengan aturan yang tepat, mendorong mereka yang berbakat di bidang musik untuk mengembangan diri sebagai pekerja seni.Belum tentu uang receh yang diberikan benar-benar digunakan untuk hal yang bermanfaat.Jika ada yang ingin beramal maka bisa dilakukan dengan cara yang lebih elegan.Masih banyak di sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan.

Ini bukan sekedar masalah perut, bukan sekedar besaran uang receh tapi lebih mengarah pada masalah pembentukan mental. Saat anak-anak kita melihat kita memberi mereka uang receh kepada pengamen muda berbadan sehat, maka yang tertanam dalam pikiran anak adalah pembenaran bahwa mengamen seperti itu merupakan pekerjaan sah, tidak memalukan dan cepat menghasilkan banyak uang. Jika ini yang terjadi maka tidak bisa dibayangkan generasi ke depan akan menjadi seperti apa.Sebagai bangsa besar tentu kita ingin generasi muda kita memiliki kemauan untuk bekerja keras dan malu menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan keringat dan pikiran yang dikeluarkan.

Kesimpulannya, perlu diambil langkah-langkah konkrit seperti, himbauan kepada masyarakat tentang larangan memberikan uang kepada pengamen muda dan berbadan sehat. Menginformasikan kepada masyarakat bahwa memberi uang receh kepada pengamen sama artinya dengan menjerumuskan generasi ke depan. Memasang stiker atau papan informasi di tempat strategis tentang larangan mengamen di pasar dan kampung.

(Telah diterbitkan di Kridha Rakyat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: