PANDANGAN

Puisi Rino Desanto W.

Agustus Kedua
Menangis tanpa air mata
Sampai ajal tak termaafkan
Walau sujud seribu kali
Walau mata berlinang darah
Biarlah terhalang pintu surga
Sampai ludah mencuci muka
Sebelum nafas terakhir
Dada membusung belakang
Tiada bunga tiada kasih

Kontra
Semalam bulan terdiam hatiku menggeliat
Pagi ini menengadah embun menari
Kau jauh tak membuatku sedih
Didepan mata debar menggemuruh
Penantian tak menghitung waktu
Musik melantun pedih aku tegap menatap
Kuusap mata kau permata meneduh jiwa

Abad Kepalsuan
Aku menguak langit menglilingi semesta
Kulihat bumi meretak membelah roh
Kursi-kursi memanas pantat-pantat menggeliat
Topeng-topeng menari kebohongan bernyanyi
Tikar-tikar menggelepar bayi-bayi kedinginan
Tanah airku lelah memangku kebusukan
Semoga jeritnya tak muntahkan lahar

Begal
Buah pahit dari pohon pahit
Lama disiram air kelam dipupuk senyum masam
Sampah tak kan berubah jadi emas
Kini tersulut api abu bertebaran
Jika bumi terkotori segerakan beranjak
Jika masih manusia berikan cahaya kuat bukan menyilaukan

Tanah Airku
Lapar mengakar dahaga menghiba
Kau erat kudekap menyatu jiwa
Kutakkan meronta apalagi berlari
Kupaku kakiku di bumi pertiwi
Pelangiku membentang langit
Cintaku negeriku sepanjang waktu

Wanita Pilihan
Berganti hari tak berarti baru
Terkikis waktu tak berarti pudar
Kau masih melampaui wanita idaman
Garis matamu bercerita perjalanan panjang
Tentang tunas merambah menggapai buah
Tentang pagi meniti menapak petang
Lahir tertawa merangkai tangis senja
Usiamu berjalan beriring bahagia
Namun hanya mentari cahaya abadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: