LANGKANYA PROFESI TUKANG BATU/KAYU

LANGKANYA PROFESI TUKANG BATU/KAYU
Oleh: Rino Desanto

Mencari tukang batu/kayu ternyata bukan perkara mudah. Saat membutuhkan tenaga mereka, kita harus sabar menunggu sampai beberapa minggu ke depan karena begitu banyak orang yang sudah memesan tenaga mereka. Ini sebuah gejala cukup aneh tentunya. Sebab dilihat dari tingkat pendidikannya di negeri ini harusnya lebih banyak tersedia tenaga tukang dari pada tenaga manajerial.
Namun kenyataan di lapangan sangatlah berbeda. Profesi tukang batu/kayu termasuk profesi langka. Bahkan beberapa dari mereka tidak berangkat dari SMK kompetensi keahlian bangunan, namun berangkat dari pengalaman setelah lama menjadi kuli atau dikenal dengan sebutan kuli batu.
Menemukan SMK kompetensi keahlian bangunan di negeri ini juga tidak mudah meskipun pembangunan di negeri terus berjalan bahkan perumahan dipinggir kota terus menjamur. Gejala ini sangat menarik untuk dicermati, ada apa dengan negeri ini. Sekolah menengah kompetensi keahlian bangunan tidaklah semenarik kompetensi keahlian lainnya. Kompetensi keahlian otomotif misalnya, selalu banyak diminati masyarakat, sekalipun di daerah pinggiran.
Masyarakat kita setiap saat digelontor dengan iklan motor dan mobil dengan iming-iming diberikan berbagai kemudahan. Motor dan mobil dengan berbagai model terus membanjiri masyarakat, menjadi bagian yang lekat dengan kehidupan seperti komputer yang tidak terpisahkan dari kebutuhan kita. Karenanya SMK yang membuka kompetensi keahlian ini selalu banyak peminatnya.
Berbeda dengan kompetensi keahlian bangunan yang hanya dengan sedikit minat. Akhirnya banyak yang tutup atau juga tidak berani membuka kompetensi keahlian ini. Ada sisi kontradiktif, disatu sisi masyarakat membutuhkan banyak profesi tukang batu/kayu, disisi lain dunia pendidikan tidak siap mencetak tenaga dengan profesi tersebut.
Profesi tukang batu/kayu perlu didongkrak. Pemerintah dalam hal ini harus ikut hadir. Salah satu sebab profesi ini kurang diminati adalah kurangnya apresiasi terhadap profesi tersebut. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan mengangkat derajat profesi mereka. Alangkah bijaksananya jika kedepan pemerintah atau masyarakat atau keduanya mengadakan semacam lomba, sebagai ajang untuk menunjukan kemampuan tukang batu, tukang kayu atau tukang-tukang lainnya. Pelaksanaannya di tempat terbuka sehingga menarik perhatian khalayak ramai, dengan piala bergilir dan penghargaan lainnya.
Cara demikian tentu akan berpengaruh terhadap image masyarakat tentang profesi sebagai tukang. Dunia pendidikan pun seiring sejalan membuka kompetensi keahlian baru yang siap menampung keinginan masyarakat. Semakin banyak lulusan pertukangan, posisi tawar tukangpun akan semakin balance, memperlancar program pembangunan dan utamanya orang tidak lagi merasa rendah dengan profesinya sebagai tukang. Malahan sebaliknya, memiliki kebanggaan, memiliki kesempatan untuk menjuarai lomba-lomba di bidang pertukangan dan mengangkat piala bergilir.
Kedepan bisa dikembangkan dengan memberikan apresiasi bidang lain, misalnya tukang tebang kayu. Selama ini saya belum pernah melihat lomba tebang kayu yang memberikan apresiasi dan kebanggaan atas profesi tersebut. Sementara ini menjadi tukang hanyalah pilihan terakhir, bukanlah suatu kebanggaan. Seperti tukang sapu jalan atau tukang sampah, mereka begitu besar perannya dalam menjaga kebersihan dan kesehatan kota, ada baiknya suatu saat diadakan lomba menyapu jalan atau membersihkan sampah di kampung-kampung.
Dalam memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus sering kali diadakan berbagai macam lomba, tapi sifatnya masih sebatas hiburan. Akan lebih mengena jika lomba-lomba pertukangan diadakan dalam rangka mengapresiasi profesi tukang dan mengangkat derajat orangnya. Bersama masyarakat meningkatkan peran semua sektor agar semua bidang kegiatan menjadi kokoh, demi tercapainya masyrakat adil maknur. Jangan sampai kelangkaan ini memberikan kelonggaran kepada pekerja asing masuk Indonesia mengisi kelangkaan profesi tukang.

(Telah diterbitkan di Majalah Kridha Rakyat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: