FAKTA UNIK SEPUTAR MAKANAN DAN PAKAIAN

FAKTA UNIK SEPUTAR MAKANAN DAN PAKAIAN
Oleh: Rino Desanto

Budaya sebagai hasil karya manusia bisa berbentuk benda, ide atau pemikiran. Budaya makan dan berpakaian mencirikan asal wilayah. Makanan yang setiap hari kita makan, mulai dari resepnya, cara pengolahannya sampai penyajiannya dan cara makannya mencirikan asal wilayah. Suatu contoh makanan china, cara memotong bahan-bahannya tidak besar juga tidak kecil, disesuaikan dengan kecukupan mulut. Sekali ambil tanpa perlu dipotong dan tidak perlu membuang tulang atau bahan yang tidak perlu dimakan.
Cara memasak dan penyajiaan makanan menyesuaikan dengan alat makan. Makan pakai sumpit. Maka kuahnya cenderung disajikan dalam mangkuk kecil agar mudah untuk meminumnya. Nasi yang disajikan tidak perak agar mudah diambil dengan sumpit. Demikian juga dengan makan mie, lebih tepat menggunakan sumpit dari pada memakai sendok.
Sumpit sudah dibuat dan dikenal di China sejak 3.000 hingga 5.000 tahun yang lalu. Pada zaman dulu, gading gajah sering digunakan untuk membuat sumpit berharga mahal. Sumpit dari perak juga pernah digunakan istana kaisar di China untuk mendeteksi racun. Namun demikian sumpit dari bambu lebih murah dan mudah dibuat. Hal ini tidak lepas dari China sebagai sebuah negeri tirai bambu, memanfaatkan sumber daya melimpah yang ada disana.
Lumpia salah satu jajanan China awalnya juga berbahan babi dan rebung (bambu muda), jajanan yang bahan-bakunya banyak ditemukan di China. Walaupun sekarang sudah banyak lumpia dengan bahan ayam atau udang.
Berbeda dengan daratan Eropa yang memanfaatkan teknologi logam ke meja makan, seperti sendok garpu dan pisau. Konon pembuat sendok dengan desain yang kita kenal sekarang adalah Bangsa Romawi sekitar abad pertama Masehi. Sekitar abad ke-XIX, mulai dilakukan proses pelapisan sendok yang terbuat dari nikel dan pada tahunn 1920, perangkat makan anti karat mulai dikenal dan banyak digunakan. Selain sendok dan garpu pisau juga digunakan sebagai alat makan
Karena itu tidak mengherankan kalau steak sayurnya disajikan dengan ukuran panjang, demikian juga dagingnya berukuran besar dan siap dipotong di atas piring. Sampai-sampai makan pisang pun menggunakan pisau dengan memotongnya di atas piring.
Satu contoh lagi dari Surabaya, rujak petis atau rujak cingur yang berasal dari surabaya, seringkali identik dengan kangkung. Hal ini tidak lepas dari wilayah Surabaya yang dulunya banyak rawa, dimana pada area tersebut banyak tanaman kangkung tumbuh subur.
Petis yang sudah ada sejak abad ke-14 berbahan-baku udang kecil atau ikan (hasil laut) banyak ditemukan di daerah pesisir. Karena itu resepnya menyesuaikan dengan bahan yang mudah didapatkan seperti petis dan kangkung. Jika sayurannya diganti selain kangkung rasanya terasa kurang sedap, apalagi jika petisnya diganti dengan mayonaise tentu rasnya agak menjadi aneh. Walaupun fungsi petis hampir sama dengan mayonnaise atau saos.
Dalam mengungkapkan rasa syukur atau hajatan selamatan diwilayah tambak akan cenderung menyajikan menu berbahan bandeng, sedangkan di daerah yang lebih dalam atau dataran lebih tinggi bisa menyajikan menu ayam dan telurnya, ayamnya cenderung sudah berumur dan berkelamin jantan atau sudah tidak produktif .
Di daerah yang suhunya panas kering dan perpasir cenderung menyajikan menu berbahan kambing, salah satu sebabnya telur ayam tidak bisa menetas menjadi anak ayam pada suhu yang terlalu panas, disana juga kering sehingga tidak memungkinkan menyajikan ikan yang hidupnya di air. Kambing pun dipilih yang sudah berumur dan jantan atau sudah tidak produktif.
Di Negara-negara yang memiliki wilayah subur yang bisa memberi hasil bumi melimpah memungkinkan untuk membuat menu non hewani (vegetarian) dan memanfaatkan hewan-hewannya seperti sapi dan kerbau untuk membajak tanah. Demikian sebaliknya di daerah tandus mau tidak mau akan menyajikan makanan dengan menyesuaikan bahan yang ada.
Di Negara dengan empat musim, pada saat musim dingin tiba orang cenderung melindungi tubuh dari cuaca dingin dememakai baju berlengan panjang. Bertambah hari dingin semakin terasa, kancing baju paling atas pun dikancingkan. Namun tampilan berubah menjadi culun, oleh karena itu dipakai asesori berupa dasi agar terlihat lebih elegan.
Pada puncak musim dingin aktifitas tetap harus berjalan. Bekerja dengan menggunakan jaket sungguh tidak indah dipandang. Dibuatlah jas dengan bahan tebal dan warna hitam menyerap panas agar badan tetap hangat dan aktifitas tetap berjalan dan tampilan juga indah. Konon jas mulai muncul pada tahun 1860, ketika Henry Pool & Co. membuat setelan khusus bagi Pangeran Inggris Edward VII untuk dikenakan pada acara makan malam.
Bebeda dengan daerah kering berpasir yang memungkinkan terjadinya badai pasir, maka penutup kepala sangat diperlukan agar jika sewaktu-waktu terjadi badai pasir rambut tetap terlindungi, cukup dengan mengibaskan penutup kepala tanpa harus keramas, karena air mahal.
Berbeda pula dengan daerah pertambangan, celana berbahan keras dan tebal lebih cocok dikenakan. Pada tahun 1847 Levi Strauss dari Bavaria (Jerman), sudah menjual jean ke San Fancisco Amerika Serikat yang sedang demam tambang emas. Para penambang merasa cocok menggunakan celana jean, dengan bahan lebih tebal dan keras memungkinan bertahan lebih lama dari kerusakan akibat goresan. Pada bagian belakang kanan kiri diberi saku tempel agar jika terjadi goresan kerusakan awal masih ditahan oleh saku. Dalam beberapa hal celana jean kurang nyaman dipakai saat bergerak karena bahannya keras. Untuk itu pada bagian siku kaki bisa dilakukan penyobekan sehingga bisa bergerak lebih nyaman.

(Telah diterbitkan di Kridha Rakyat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: