PEMAHAMAN DIRI

PEMAHAMAN DIRI
Oleh: Rino Desanto

Pemahaman diri diperlukan sebelum memahami orang lain.Seringkali anak-anak tidak benar-benar paham apa yang selama ini dilakukan. Sebagai contoh, mahasiswa semester awal ketika ditanya berapa persen pelajaran semasa SMA/SMK yang masih diingat. Rata-rata mereka hanya mengingat antara 30-50 persen saja. Bahkan beberapa hanya ingat 20 persen saja. Hanya satu dua orang yang menyatakan masih ingat 60 persen pelajaran SMA. Ini berarti selama tiga tahun mereka tak paham benar apa yang mereka lalukan.

Pertanyaannya, kalau memang hanya ingat tidak lebih dari 50 persen, kenapa harus belajar sampai tiga tahun. Bukankah satu setengah tahun sudah cukup untuk belajar di SMA/SMK. Jadi tanpa disadari telah membuang waktu selama satu setengah tahun berikutnya. Apakah tidak lebih baik belajar di SMA/SMK cukup satu setengah tahun saja dan sisanya digunakan untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat.

Demikian juga ketika mahasiswa semester awal ditanya kenapa di SMA mengambil IPA atau IPS. Ada yang menjawab IPA lebih keren, IPS lebih mudah, IPA banyak hitungan, sedangan IPS lebih banyak hapalan. Ternyata banyak dari mereka tidak paham kenapa memilih IPA atau IPS. Baik output IPA maupun IPS sama-sama tidak membawa ilmunya dengan penuh untuk masa depannya. Kalau mereka hanya ingat tidak lebih dari 50 persen berarti baik IPS maupun IPA sama-sama menjadi hapalan. Oleh karena itu setelah ujian cenderung banyak yang lupa.

Banyak orang tua yang masih berpikir bahwa IPA lebih baik dari IPS. Tanpa sadar mereka masih terbawa situasi jaman sebelum merdeka. Tempo dulu memang IPA lebih didengung-dengungkan untuk kepentingan penjajah dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja pabrik gula dan memenuhi hasil pertanian. Penjajah tentu tidak ingin masyarakat yang dijajah paham politik, hukum dan ekonomi, dengan harapan masyarakat yang dijajah tidak merasa dihisap sumber dayanya, tidak punya keinginan untuk merdeka dan tidak sadar akan hak dan kewajibannya. Karena itulah IPA lebih diunggulkan dari pada IPS.Meskipun kenyataannyadalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak bersentuhan dengan dapur ekonomi dan interaksi sosial.

Demikian juga dalam banyak hal anak tidak paham dengan apa yang dilakukan mulai dari model perpakaian sampai tata cara makan. Semua lebih mengarah pada mengikuti model tanpa pemahaman kenapa model tersebut ada. Dia ingin seperti kebanyakan orang. Sampai-sampai dalam hal ritual religius punbanyak yang tidak paham kenapa harus melakukan pada waktu-waktu tertentu dan apa makna yang tersirat di dalamnya.

Seolah menjadi kebiasaan, melakukan sesuatu karena orang lain juga melakukannya. Ketakutan ditinggalkan lingkungan sosialnya menjadikan seseorang kehilangan jati dirinya.Tidak bisa dipungkiri sebagian dari kita takut berbeda. Mereka tidak sadar bahwa mereka telah terjebak dalam situasi dimana mereka hanyut dalam kehidupan orang lain yang sebenarnya belum tentu sesuai dengan potensi diri yang dimiliki. Semua dilakukan berdasarkan kebersamaan.

Hal demikian telah membuat anak jauh dari rasa tanggung jawab, karena semua dilakukan secara bersama-sama. Berbeda bila sejak kecil sudah diajarkan mengambil keputusan sendiri, maka akan menjadikan anak berani melakukan sesuatu sendiri, dan bertanggungjawab  atas apa yang dilakukan.

Sudah saatnya membelajarkan anak bertanggung jawab atas apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan. Kalau mereka mengatakan A maka harus tahu dan paham apa itu A. Kalau mereka memakai B karena memang benar-benar membutuhkan B. Demikian juga ketika mereka makan C karena memang C itulah yang dibutuhkan. Jadi dalam berbicara maupun bertingkah laku harus memiliki dasar yang kuat, bukan karena orang lain melakukan hal yang sama.

Memahami diri bukanlah hal sulit, asal setiap gerak langkah benar-benar dipahami apa, kenapa dan hendak dibawa kemana, apa yang hendak dicapai di hari esok dengan rencannya dan bagaimana melaksanakannya. Boleh jadi ada beberapa opsi dalam implentasi sebuah rencana. Pilihan terbaik adalah dengan mempertimbangkan potensi diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: