NEGERI BEBAS TIKUS

NEGERI BEBAS TIKUS

Oleh: Rino Desanto

Saat melihat video seorang polisi menjatuhkan pengendara motor gara-gara mau melarikan diri ketika hendak ditilang, saya jadi membayangkan jika saja yang menjadi polisi pada saat kejadian tersebut adalah saya maka saya akan ambil cemeti dan saya perlakukan pengendara tersebut layaknya kerbau.

Manusia selayaknya diperlakukan sebagai manusia, dengan catatan mereka berperilaku sebagai manusia. Jika mereka berperilaku seperti kerbau, selayaknya diperlakukan seperti kerbau, dicemeti agar mau berjalan, berhenti dan berbelok. Kerbau tidak bisa diajak berkomunikasi ala manusia karena itu komunikasi yang efektif dengan kerbau adalah melalui media cemeti.

Demikian juga manusia yang berperilaku seperti tikus, selayaknya diperlakukan seperti tikus. Tikus itu hama perusak, di sawah merusak padi, di gudang menghabiskan persediaan, dimeja makan merusak sajian makan, di almari merobek corak baju, di dapur melenyapkan bahan makanan. Semua yang dilakukan tikus selalu meresahkan dan merugikan menusia. Sudah selayaknya tikus diberantas, semisal melalui Gerakan Negeri Bebas Tikus. Jadi siapapun yang berperilaku layaknya tikus, pantas dibatasi ruang geraknya.

Ada juga manusia yang berperilaku sepeti ular, lebih baik jika mereka diperlakukan seperti ular,  dijauhkan dari lingkungan mahluk beradab. Biarlah mereka hidup di hutan atau semak belukar. Ular dengan racunnya sangat berbahaya, dan dapat mematikan sendi-sendi kehidupan. Dimana-mana senantiasa menebar racun, melihat dingin mangsanya menggelepar oleh gigitannya. Biarlah ular hidup dalam komunitas tersendiri di sebuah pulau kecil terpencil.

Hendak menjadi manusai, kerbau, tikus atau ular itu adalah sebuah pilihan. Kita hargai keputusan hidup mereka. Siapa pun yang hidup di bumi ini sudah semestinya mendapatkan perlakuan sesuai keputusan hidunya. Hanya saja pertanyaannya saat ini adalah siapa yang berhak dan yang akan memperlakukan mereka sebagaimana keputusannya hidup mereka. Apakah sarana yang ada sudah memadai. Apakah yang menjalankan sudah dibekali pemahaman dan kewenangan penuh tanpa ada campur tangan manapun.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah sudah disiapkan cemetinya, alat pemberantas tikus, dan pulau kecil terpencil. Jika semua sarana yang dibutuhkan sudah ada, pertanyaan berikutnya lagi adalah siapakah yang berani melakukan gebrakan seperti itu. Seperti aksi pemberantasan tikus misalnya. Karena ketika suatu wilayah dilakukan aksi pemberantasan, bukan tidak mungkin tikus-tikus lain akan berdiam diri. Mereka cenderung akan mengamuk dan merusak fasilitas apa saja yang ada disekitarnya.

Karena itu perlu Gerakan Negeri Bebas Tikus. Semua lini wilayah bergerak secara bersamaan sehingga tidak ada peluang bagi seekor tikus pun untuk melakukan aksi balasan. Mungkin tikus cerdas alias tikus yang bisa membaca tulisan ini pada tertawa. Dalam batin tikus bergumam “memangnya mudah menghilangkan koloni tikus, kami sebuah koloni yang memiliki akar yang kuat”.

Akar yang kuat mampu menopang pohon besar. Akar menjadi kuat karena selalu mendapatkan air. Inti kekuatan pohon adalah pada akarnya. Akar membutuhkan air, selama akar tidak disiram atau dijauhkan dari air maka pohon akan mengering dan akarpun tidak ada fungsinya lagi. Tentunya gerakan menjauhkan  akar dari air ini juga harus dilakukan secara bersamaan pula, dengan tekat bulat agar akar kukuatan tikus menjadi lemah dan tidak berfungsi.

Bukan berarti koloni kerbau, tikus dan ular tidak boleh hidup di bumi ini. Mereka tetap diberikan hak hidup namun pada tempat yang layak. Kerbau biarlah hidup di sawah agar memberikan manfaat pada petani, tikus biarlah hidup dalam kerangkeng agar tidak merusak apa saja yang ditemui. Demikian juga dengan ular, biarlah tetap hidup di sebuah pulau kecil dan terpencil agar tidak menebarkan racun dimana-mana.

Baru setelah itu hidup manusia akan terasa lebih nyaman, roda kehidupan berjalan lebih normal. Perlahan koloni manusia berkuasa atas bumi dengan peradaban baru. Peradaban tanpa gangguan tikus, racun ular maupun suara cemeti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: