BELAJAR MENJADI MALAIKAT

BELAJAR MENJADI MALAIKAT

Oleh: Rino Desanto

Manusia tidak semestinya belajar menjadi manusia. Semestinya manusia belajar menjadi malaikat. Itulah yang terpikir ketika melihat video seorang bos yang terpanggil hatinya ketika melihat orang lain dalam situasi kekurangan dari sisi ekonomi. Bukan hanya terketuk hatinya tapi benar-benar melakukan aktifitas nyata dengan membantu meringankan keluarga orang tersebut.

Bos ini bukan belajar menjadi manusia tapi belajar menjadi malaikat. Bos ini sudah melewati masa belajar menjadi manusia. Dia telah menjadi manusia. Manusia dalam arti sebenarnya. Manusia yang belajar menjadi malaikat. Manusia yang berguna bagi manusia lain, manusia yang memberikan manfaat bagi manusia lain, manusai yang mengangkat martabat manusia lain. Mengangkat harkat manusia lain tanpa memandang apa latar belakang sosiobudaya, strata dan keyakinan.

Menjadi manusia berarti menjadi diri sendiri. Belajar menjadi manusia berarti masih dalam proses menjadikan diri sebagai manusia. Dalam proses menjadikan diri sebagai manusia bukan tidak mungkin akan terjadi proses plagiasi. Selama proses plagiasi mereka belum menjadi dirinya sendiri, setiap saat bisa berganti topeng hingga akhirnya menetapkan untuk tidak memakai topeng.

Memutuskan diri menjadi manusia adalah sebuah keputusan final. Tapi belajar menjadi malaikat adalah keputusan ideal dalam hidup manusia. Jika diri memutuskan segala usaha yang dilakukan semata-mata untuk kepentingan diri sendiri baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat dengan menutup mata akan kesiltan orang lain, asal tidak mengganggu dan mengurangi hak orang lain maka boleh disebut sebagai manusia, tapi tidak lebih.

Manusia yang belajar menjadi malaikat, memandang manusia lain lebih dai diri sendiri. Memikirkan manusia lain lebih dari sendiri. Segala yang dilakukan mempertimbangkan apakah manusia lain telah setingkat dengan dirinya dalam kesejahteraan, dalam pengetahuan dan posisi dalam masyarakat. Manusia yang belajar menjadi malaikat tidak membangun rumah mewah diantara gubuk reyot.

Manusia yang belajar menjadi malaikat tidak melakukan perjalanan jauh jika disekitarnya masih ada yang tidak mampu membayar angkot. Manusia yang belajar menjadi malaikat tidak mengenakan jas diantara kerumunan manusia tidak berbaju. Manusia yang belajar menjadi malaikat senantiasa bertanya pada diri, apa yang telah dilakukan untuk manusia lain.

Menjadi manusia lebih mudah dari pada belajar menjadi malaikat. Bermula dari belajar menjadi manusia kemudian menjadi manusia dan selanjutnya belajar menjadi malaikat. Tahapan terpuji adalah belajar menjadi malaikat, karena rela mengurangi sebagian haknya untuk manusia lain, tidak lagi memikirkan diri sendiri, apalagi sampai melukai hati manusia lain.

Manusia yang belajar menjadi malaikat memandang manusia maupun yang belajar menjadi manusia dengan penuh kerendahan dan kesamaan derajat. Di matanya ibu adalah manusia tertinggi derajatnya, jauh lebih tinggi dari jabatan apapun di bumi ini. Ayah adalah manusia kedua setelah ibu yang tidak dapat dibandingkan derajatnya dengan jabatan atasannya.

Belajar menjadi malaikat adalah belajar menjadi lebih dari manusia pada umumnya. Tidak banyak manusia yang belajar menjadi malaikat. Karena itulah masih banyak kesejangan di bumi ini, utamanya kesenjangan ekonomi. Jika saja seperempat manusia di bumi ini belajar menjadi malaikat tentunya tidak akan ada cerita kesenjangan lagi. Manusia pada umumnya merasa sudah cukup dengan menjadi manusia. Karena menjadi manusia lebih mudah dari pada menjadi manusia yang belajar menjadi malaikat. Kita telah begitu lama diajarkan tentang segala sesuatu yang mudah dan bukan  suatu yang memusingkan diri tapi bisa mendatangkan kemuliaan bagi manusia lain.

Suatu waktu perlu evaluasi diri siapakah diri ini, apakah sudah menjadi manusia, atau masih belajar menjadi manusia dan kapan menjadi manusia yang belajar menjadi malaikat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: