KESIAPAN MENTAL SEORANG PEMIMPIN

KESIAPAN MENTAL SEORANG PEMIMPIN

Oleh: Rino Desanto

 

Membaca islamnkri.com tentang Keputusan Walikota Tanjung Balai Sutrisno Hadi memerintahkan penurunan Patung Buddha Amitabha dari bangunan Vihara Tri Ratna di Tanjungbalai Asahan benar-benar membuat mereka yang sehat logika mengelus dada. Seorang pemimpin mengambil keputusan karena desakan ormas tertentu dengan mengabaikan norma yang ada, sungguh disesalkan.

Pertanyaannya adalah siapa saja yang dipimpin, dan siapa yang memimpin. Seharusnya yang dipimpin adalah seluruh warga kota, bukan warga dengan baju ormas tertentu. Seharusnya yang memimpin adalah yang mengayomi seluruh warga kota dan bukan yang hanya menyenangkan warga dengan baju ormas tertentu.

Menjadi pemimpin membutuhkan persiapan mental sebagai seorang pemimpin. Menyiapkan diri untuk menjadi peneduh bagi semua warganya. Menjadi pembakar semangat bagi warganya terutama yang muda-muda. Menjadi penuntun bagi warganya yang hatinya buta. Menjadi penyantun bagi warganya yang lapar. Menjadi payung bagi warganya tatkala hendak turun hujan.

Pemimpin adalah milik semua warga bukan hanya milik warga dengan ormas ternetu. Sebelum menjadi pemimpin mereka adalah warga biasa dan setelah menjadi pemimpin mereka kembali menjadi warga biasa. Mereka menjadi pemimpin karena dipilih oleh sebagian besar warga, karena dipercaya oleh sebagian besar warga.

Tidak elok mencederai kepercayaan yang telah diberikan oleh warga. Mereka berharap besar pada pemimpin yang telah mereka pilih, bisa memberikan perubahan, memberikan nilai tambah, membuat hidupnya lebih bermanfaat dan bermartabat. Bukan sebaliknya, memecah belah mereka menjadi kelompok-kelompok kecil demi melanggengkan kekuasaan.

Pemimpin yang berusaha melanggengkan kekuasaan justru mencerminkan adanya ketakutan akan ruang gelap. Menjadi pemimpin itu tugas tambahan sebagai warga biasa. Tugas tambahan ini selayaknya diterima sebagai bentuk pengabdian kepada warga untuk mengangkat harkat martabat mereka dari jurang kemiskinan, dari lembah kegelapan menuju puncak kejayaan yang diterangi ketulusan hati.

Warga bukanlah permainan, bukan juga alat politik. Demikian pula dengan pemimpin, mereka bukanlah boneka. Tapi keduanya, warga dan pemimpin bukanlah sekedar darah dan daging, mereka memiliki nurani. Nurani hanya dimiliki oleh manusia, mahluk lain tidak memilikinya. Jika berjalan hanya dengan kaki tanpa membawa nurani, maka perlu dipertanyakan kemanusiaanya.

Karena pemimpin memiliki tugas tambahan, maka beban hidupnya semakin bertambah, yang berarti pula nurani yang menyertainya harus lebih banyak dari warga biasa. Apa yang diperbuat seorang pemimpin menggambarkan kekayaan nuraninya, melukiskan kesehatan mentalnya dan kesiapannya kembali menjadi warga biasa.

Harus bagaimanakah seorang pemimpin? Mengikuti mayoritaskah? Ataukah mengikuti minoritas? Seorang pemimpin semestinya tidak mengikuti keduanya. Seorang warga biasa dipilih untuk menjadi pemimpin bukan untuk mengikuti tapi untuk diikuti. Seorang pemimpin tempatnya di depan bukan di belakang seperti ekor. Seorang pemimpin siap menjadi pusing karena pemimpin adalah kepala.

Harus bagaimanakah seorang pemimpin? Dilayani oleh warga biasa? Ataukah dihargai oleh warga biasa? Salah satu tugas pemimpin adalah melayani warganya. Seorang pemimpin harus terlebih dahulu memberikan penghargaan kepada warganya karena telah memberikan kepercayaan kepada dirinya untuk memimpin warga di wilayahnya. Seorang pemimpin mustilah sering memberikan apresiasi kepada warganya yang telah memperlihatkan kesuksesannya.

Harus bagaimanakah seorang pemimpin? Menerima upeti dari warganya ataukah berkorban untuk warganya. Menjadi seorang pemimpin harus siap merugi secara finansial, waktu dan pikiran. Semua yang dimilikinya hanya untuk warganya, bukan kelompok atau golongan tertentu. Dalam banyak hal menjadi seorang pemimpin memiliki peluang besar untuk beramal dan menambah bekal akhirat

Apa yang diputuskan seorang pemimpin menggambarkan latar belakangnya. Kata-kata yang terucap merupakan ekspresi dari apa yang dipikirkan. Apa  yang dipikirkan tidak lepas dari latar belakang. Latar belakang berpengaruh pada sikap perilaku dan gaya dalam bertutur kata. Bersyukurlah pemimpin yang memiliki latar belakang yang mendukung sikap perilaku ke arah peningkatan perbaikan. Tapi tentunya tidak semua pemimpin memiliki latar belakang yang membentuk sikap kepemimpinannya direspon positif oleh sebagian besar warganya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: