TOPENG DAN KEPOLOSAN

TOPENG DAN KEPOLOSAN
Oleh: Rino Desanto

Setiap kali menjelang hajatan besar seperti pikada misalnya seringkali diikuti kericuhan. Kericuhan bermekaran, tunas kebencian tumbuh subur. Rasa kebangsaan luntur, lupa saudara karena kepentingan sesaat. Nilai kejujuran tergadaikan. Satu per satu melepas topeng masing-masing. Tampaklah wajah-wajah serakah, goresan wajah penuh kedengkian, barisan sakit hati. Tampaklah wajah-wajah pemancing di air keruh, wajah-wajah primitif.
Akhirnya tertinggal dua warna hitam dan putih, yang dari dalamnya putih akan tampak lebih putih. Demikian juga yang dari dalamnya hitam akan tampak menghitam. Dalam situasi emosional meningkat, manusia akan memperlihatkan karakter yang sesungguhnya. Tidak bisa berbohong, topeng yang dikenakan akan terlepas dengan sendirinya. Berbeda dengan saat emosi rendah, pikiran berkuasa dan mampu bersandiwara.
Manusia bisa bersandiwara tapi tidak selamanya. Tidak salah memakai topeng tapi tidak akan langgeng, pada saatnya topeng pun akan melepaskan diri. Tidak ada yang kekal, apalagi hanya sebatas topeng. Apalah artinya topeng jika hanya bisa bermain sesaat, hanya memberikan solusi sesaat, dan hanya memberikan kepuasaan sesaat, jika dibandingkan terlupasnya topeng yang sakitnya jauh lebih lama. Topeng mencari kepuasan, kepolosan berbuah kebahagiaan. Kepolosan memungkinkan lebih lama dinikmati dari pada menggunakan topeng.
Memakai topeng mengarah pada kemunafikan, kepolosan identik dengan kejujuran. Polos atau memakai topeng sebuah pilihan. Bagi pemakai topeng, pilihan terbaik adalah mengenakan topeng. Bagi yang polos pilihan terbaik adalah tanpa topeng. Tidak mungkin menghakimi keduanya dengan mengatakan salah satu dari mereka yang terbaik. Karena mereka hidup di alam berbeda. Si topeng hidup di alam topeng, sedangkan si polos hidup di alam keluguan. Yang satu bermain sandiwara, yang lain menjalani hidup apa adanya.
Bagi si polos hidup itu nyaman dan tentram jika berjalan apa adanya. Namun tidak demikian bagi si topeng, hidup itu sebuah permainan, jadi musti bermain jika ingin bertahan hidup. Inilah yang menguatkan pemikiran bahwa mereka tidak bisa dibandingkan. Keduanya menjalani hidup dengan caranya. Namun bukan tidak mungkin mereka disandingkan. Keduanya sama-sama sebagai warga negera, keduanya meninginkan pelayanan umum yang sama. Keduanya berpijak di bumi yang sama, sama-sama membutuhkan pengakuan kediriannya. Inilah sisi positif yang bisa dimanfaatkan untuk menui kebersaam dalam perbedaan. Perbedaan yang indah dalam satu wilayah.
Mereka yang memakai topeng seringkali diberikan cap tidak konsisten dan penuh kebohongan. Sebenarnya penilaian tersebut lebih bnayak datang dari si polos. Sebaliknya dari kacamata si topeng, dikatakan si polos menyerah sebelum perang, tidak berani menghadapi derasnya tantangan kehidupan. Baik si topeng maupun si polos memberikan pembenaran atas logika masing-masing. Karenanya alangkah bijaknya jika melihat mereka yang berbeda bukan dari kacamata sendiri tapi juga dari kacamata mereka.
Pada hakekatnya topeng itu dibuat untuk memberikan gambaran tentang karakter yang ingin ditonjolkan. Bisa karakter jahat, maupun karakter alim, karakter kasar maupun karakter halus. Namun dalam kehidupan nyata topeng lebih sering dipakai untuk memberikan gambaran karakter halus dan alim. Sudah menjadi sifat dasar manusia ingin tampil mempesona. Bagi yang merasa diri tidak mempesona akan cenderung memakai topeng agar tampilannya mempesona.
Topeng dipakai dengan sebuah kesadaran suatu saat dilepas, sebagaimana orang menari, setelah selesai menari topengnya pun dilepas. Kesadaran ini akan membatu pemakai topeng lebih efektif menentukan kapan saat yang tepat memakai dan melepas topeng. Mengenakan topeng bukan tanpa beban, semakin berat topeng yang dikenakan semakin berat peran yang dimainkan, semakin sulit berbohong. Melepas topeng adalah saat yang dinantikan oleh seorang pemain, serasa lepas baban.
Apakah memakai topeng itu salah? Jawabnya adalah tidak. Tapi tidak mengenakan topeng akan memberikan kesan kemurnian hati, ketulusan jiwa, kesederhanaan hidup, keberanian menghadapi realita, tidak menuntut terlalu banyak. Tidak mengenakan topeng tidak berati jauh dari penguasa, tidak mengenakan topeng akan lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Topeng hasil perbuatan manusia, sedangkan polos hasil ciptaan Sang Pencipta. Mana yang lebih baik, memakai topeng atau polos? Tidak ada jawaban yang tepat, semua kembali pada masing-masing individu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: